AD (728x60)

Blog Archive

Flickr Photostream


All About Love And God Spot


Dynamic Drive

Agustus 28, 2009

Buru Donatur Teroris

Share & Comment
Buru Donatur, Muhammad Jibril Diinterogasi secara Mobile
Polisi Siap Lepas setelah Tujuh Hari

JAKARTA - Penyidikan polisi terkait dengan pendanaan operasi teror bergulir cepat setelah Muhamad Jibril diringkus. Densus 88 Mabes Polri berharap jejak syekh asal Timur Tengah yang diduga sebagai donatur pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton bisa terlacak. Karena itu, Jibril diinterogasi secara mobile (berkeliling) kemarin (26/8).

''Penyidikan masih dikembangkan, terutama pada kronologi kedatangan seorang syekh ke Indonesia,'' kata seorang sumber Jawa Pos kemarin.

Jibril disergap petugas Densus 88 pada Selasa (25/8) saat hendak pulang ke rumah orang tuanya, Abu Jibril, di Pamulang, Tangerang.

Seharian kemarin, Jibril dibawa ke berbagai lokasi di sekitar Ja­kar­ta. ''Ke Bandara dan ke Be­­kasi,'' katanya lantas menolak menyebutkan detail tujuan.

Jibril dianggap mengetahui kedatangan donatur operasi teroris itu ke Indonesia pada Juni lalu. ''Tapi, ke­terangannya masih berbelit-belit. Berulang-ulang ditanya sering me­ngaku lupa,'' ungkap sumber itu.

Polisi juga berusaha mencari jejak-jejak dokumen berupa surat, fotokopi, tiket, atau bill kamar hotel. ''Kami menemukan beberapa yang signifikan di kantor tersangka (Arrahmah Media, tempat Jibril tinggal, Red). Tapi, belum bisa saya sampaikan,'' ujarnya.

Jika dalam jangka tujuh hari peran Jibril dalam operasi teror Marriott 17 Juli lalu tak bisa dibuktikan, polisi pasti akan melepas dia. ''Kami tak mau melanggar hukum. Tapi, kami efektifkan sisa waktu yang ada,'' tegasnya.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengamini per­nyataan itu. ''Berdasar UU Antiteroris, polisi punya hak menangkap dan memeriksa se­seorang dalam tuduhan terlibat aksi terorisme. Jika dalam 7 x 24 jam tidak terbukti, akan dilepas,'' ungkapnya kepada wartawan kemarin.

Dia juga membantah kabar bah­wa Jibril sebenarnya ditangkap lebih dulu sebelum ditetapkan sebagai DPO oleh polisi. ''Tolong cermati ya, pengumumannya itu pukul 13.00 siang, dia ditangkap pukul 15.00 sore. Jadi, kami memang mencari di alamat sebelumnya, tapi tidak ketemu. Karena itu, kami umumkan,'' tegasnya.

Penangkapan Jibril yang tanpa disertai surat penangkapan tersebut direaksi keras keluarganya. Kemarin (26/8), Abu Jibril, ayah Jibril, mengadakan jumpa pers di Masjid Al Munawwaroh, Pamulang, dekat tempat tinggalnya. Dalam pertemuan itu, sekitar 100 anggota pengajian Ar Royan yang dikelola Abu Jibril ikut hadir.

Pria yang juga punya nama Mohammad Iqbal itu menilai, penangkapan anaknya tersebut merupakan aksi kalap aparat kepolisian. Mereka menangkap pelaku tanpa bukti-bukti kuat, bahkan penangkapan itu tidak manusiawi. ''Dia itu belum terbukti sebagai penjahat, tapi ditindak layaknya penjahat. Badannya ditelungkupkan di aspal. Ka­ki polisi itu menginjak punggung anak saya,'' ujarnya.


Menurut dia, polisi mulai tidak bisa berpikir logis untuk menyelesaikan kasus teroris ini. Setiap kelompok Islam yang dianggap berbeda dari pemerintah dianggap radikal serta berbahaya.

Pemikiran tersebut, kata Abu Jibril, telah meracuni aparat kepolisian. Secara serampangan mereka menangkap tanpa prosedur, bahkan membawa ke taha­nan dengan alasan tidak jelas. ''Kemarin, saya minta bertemu anak saya, tapi dijawab tidak tahu oleh Kadivhumas Polri. Masak ada polisi menangkap, tapi tidak tahu di mana tahanannya,'' katanya penuh kesal.

Saat ditanya soal kedekatan Jibril dengan Noordin M. Top, Abu Jibril mengaku tak tahu persis. Tapi, Noordin memang merupakan dosen putranya saat belajar di Malaysia. ''Kalau itu yang jadi alasan penangkapan, sangat tidak tepat. Guru belum tentu sama dengan muridnya,'' tegasnya.

Menurut Abu, Noordin bisa saja menjadi pelaku teroris. Tapi, Jibril tidak mungkin melakukan tindakan tersebut, apalagi tuduhan menggalang dana bagi terorisme. ''Makan dan minum saja masih ditanggung orang tua. Masak mau mikirin yang lain? Dia itu masih minta jajan sama saya,'' ujarnya.

Ditambah, personel Densus 88 ikut menggeledah kediamannya di Witanaharja, Pamulang. Enam anggota Densus 88 yang menggeledah itu berhasil membawa dua laptop dan sejumlah kaset dakwah. Aksi tersebut dimulai pukul 24.00-03.00. ''Saya sempat memprotes penggeledahan itu. Sebab, petugas mencari kamar tidur anak saya,'' jelas Abu.

Dia menambahkan, penggeledahan tersebut tidak sesuai pro­sedur. Lokasi yang dituju tidak sama dengan alamat surat penggeledahan. ''Anak saya tidak lagi tinggal di sini. Dia sudah hidup sendiri,'' tegasnya.

Para anggota Densus 88 itu, kata Abu, tidak peduli terhadap penjelasan tersebut. Penggeledahan tetap dilanjutkan. Semua ruang dalam rumah digeledah paksa. Hanya kamar tidur utama yang tidak diperiksa. Barang yang dibawa Densus 88, lanjut dia, adalah barang milik tamu dan anaknya.

Kemarin petang, Abu Jibril juga kembali mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Dia mengaku membawa baju dan obat-obatan untuk anaknya. Sempat menunggu dua jam, dia pulang dengan tangan hampa. ''Kata orang Densus, dia tak bisa ditemui. Masih dibawa ke suatu tempat untuk pengembangan,'' ungkapnya.

Hari ini, Abu dan pengurus Majelis Mujahidin Indonesia akan menemui Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. ''Saya akan menanyakan soal anak saya yang ditangkap tanpa prosedur,'' tegasnya.

Pengacara Abu Jibril, Yusuf Sembiring, juga akan mengajukan gugatan praperadilan. Keluarga Abu Jibril beralasan bahwa polisi telah menyimpang dari KUHP dalam penangkapan yang tidak diikuti pemberitahuan kepada keluarga. ''Semua harus tunduk pada KUHP,'' ujarnya.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, sejumlah pihak akan mengadakan tablig akbar di berbagai kota mulai Jumat besok. Di Jogjakarta, misalnya, akan ada konsentrasi massa pada 30 Agustus nanti. Isu yang akan diusung adalah mengkritik tindakan polisi yang dinilai asal tangkap.

Di Jakarta, setelah salat Jumat, akan diadakan sebuah aksi massa. Estimasi jumlah yang mendukung sikap Abu Jibril dan keluarganya itu mencapai 3.000 orang.

Bagi sejumlah anggota JI, nama Muhamad Jibril tidak asing lagi. Pemuda itu ''gaul'' dengan orang-orang Jamaah Islamiyah (JI) sejak 1993. Bahkan, dia secara personal kenal dengan Noordin M. Top, buron yang paling dicari saat ini.

Menurut seorang sumber dari kalangan internal JI, Jibril merupakan salah seorang santri di Pondok Luqmanul Hakim, Johor, 1993. Dia ditangkap dan baru keluar penjara pada 2001 dengan tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan.

Kemudian, dia pergi ke Pakis­tan. Kendati tidak ada yang bisa memastikan apa aktivitasnya di sana, sekitar 2003, Jibril ditangkap pemerintah Pakistan dan dideportasi ke Indonesia.

''Diduga kuat, dia berhubungan erat dengan Al Qaidah dan peme­rintah Pakistan menemukan ke­terkaitannya. Karena itu, dia dideportasi,'' tutur seorang anggota senior JI yang tak mau namanya di­sebutkan tersebut. Selain itu, Jibril tak asing dengan kelompok militan.

''Dia (Jibril, Red) mempunyai kaitan erat dengan Ali. Dia terbiasa membangun lobi di kalangan ke­lompok militan luar nege­ri,'' ucap seorang sumber di kepolisian.

Sumber tersebut meyakini bahwa Jibril bukan dari kalangan ''operasional'', yakni perencana maupun ek­sekutor bom. ''Dia tak punya ke­mampuan itu. Tapi, dia mempunyai jaringan yang amat luas. Di sanalah dia berperan,'' imbuhnya.

Sumber tersebut juga meng­ungkapkan, berdasar catatan po­lisi, memang belum ditemukan keterkaitan Jibril dengan bom-bom terdahulu. Mulai bom Bali I (2002) hingga bom Bali II (2005). ''Namun, tidak berarti dia tak terkait. Kami hanya belum mene­mukan kaitannya,'' ujarnya. [JP, Kamis, 27 Agustus 2009] (rdl/ano/rko/jpnn/iro)
*** * ***

Densus 88 Sita Empat CPU, Situs Ar-Rahmah Tutup


SITUS berita Ar-Rahmah terpaksa tutup. Itu terjadi karena empat CPU (central processing unit) komputernya disita Densus 88 Selasa malam (25/8). Polisi menggeledah kantor Ar-Rahmah Media yang berada di Jalan Pisok, Blok EB X No 45 A, Sektor V, Bintaro, untuk mencari dokumen terkait pendanaan terorisme yang disangkakan kepada Muhamad Jibril.

Berdasar pantauan koran ini di kantor Ar-Rahmah, penggeledahan terjadi di semua ruang kantor. Terdapat empat kamar yang dibongkar. Dua kamar merupakan ruang kerja dan dua kamar lain tempat tinggal M. Jibril yang online dengan nama sandi Prince of Jihad itu.

Staf Marketing Ar-Rahmah Hendra Setiadi mengungkapkan bahwa penggeledahan itu terjadi saat kegiatan up-load berita berlangsung. Saat itu hanya ada tiga karyawan. Salah seorang di antara mereka adalah Pemimpin Redaksi Ar-Rahmah Media Mohammad Fachri. Karyawan yang lain sudah pulang.

''Empat CPU dibawa petugas. Isinya, semua berita yang pernah tayang di situs ini. Tidak ada yang berkaitan dengan aksi teroris,'' tegas Hendra.

Lebih lanjut Henda membeberkan, kegiatan Ar-Rahmah Media memang tak hanya menyampaikan syiar Islam. Sejumlah kegiatan yang terkait pengembangan dakwah juga dilakukan. Antara lain, penerbitan dan terjemahan buku-buku Islam. ''Sudah ada 12 judul buku yang diterbitkan,'' paparnya.

Untuk dana operasional Ar-Rahmah Media, Hendra memastikan tidak ada bantuan dari asing atau luar negeri. Semua dana berasal dari donator lokal yang nilainya sangat variatif. Mulai yang menyumbang Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Kantor tersebut merupakan rumah kontrakan. Kondisinya sangat berantakan. Semua lemari dan kamar di rumah dua lantai itu terbongkar. Barang-barang berserakan di lantai kantor. Tumpukan buku-buku Islam dan kaset-kaset dakwah yang, tampaknya, sempat diperiksa isinya tak lagi tersusun di rak buku.

Pakaian M. Jibril juga tak lagi tertata. Lemari pakaian porak-poranda. Isinya berhamburan di kamar tidur. ''Ini memang kamar yang biasa digunakan pimpinan saya,'' jelasnya.

Situs Ar-Rahmah setiap hari update dengan perkembangan terbaru jihad di dunia. Mereka bahkan meng-upload video penyembelihan seorang warga Iraq yang diduga mata-mata Amerika Serikat. Selain itu, informasi perkembangan gerilyawan As Sahab Al Mujahidin di Somalia juga dikabarkan tiap jam.

Prince of Jihad alias M. Jibril juga baru saja melakukan wawancara eksklusif dengan seorang bernama Muhammad Al Mujahid yang menjadi salah seorang komandan jihad Taliban, Pakistan, di Lembah Swat. ''Di Lembah Swat seluruh mujahidin yang syahid ada 200 dan tentara (murtadin) yang terbunuh 1.200 dengan pimpinan mereka yang terbunuh berjumlah 65, Alhamdulillah.

Jumlah seluruh mujahidin dari seluruh kelompok yang berada di Swat adalah 1.500. Jadi, jika total dari kami yang terbunuh (seperti yang dikatakan tentara murtadin) berjumlah 7.000, itu adalah bohong besar," ujar Muhammad Al Mujahid kepada M. Jibril yang dimuat dalam situs itu.

Pada Rabu, 26 Maret 2008, M. Jibril juga diketahui pernah mewawancarai Imam Samudera sebelum aktor bom Bali 1 itu tewas di tangan regu tembak. Saat itu M. Jibril datang sebagai pimpinan majalah Jihad Magz yang didirikannya dengan dana sang ayah.

Sumber Jawa Pos di Mabes Polri menyebutkan, situs Ar-Rahmah punya koneksi langsung dengan tim cyber jaringan Al Qaidah Al Islamiyah milik Usamah bin Laden. ''Kalau tidak, dari mana mereka bisa punya data selengkap itu,'' kata sumber itu.

Namun, Pemimpin Redaksi Ar-Rahmah Moh. Fachri membantah tegas. ''Saya yakin, ini hanya karena polisi gerah dengan berita-berita kami yang mengkritik mereka. Kami itu situs dakwah, bukan situs teroris,'' katanya di sela-sela mendampingi Abu Jibril di Masjid Munawaroh, Pamulang, Tangerang. (rdl/rko/jpnn)

Print this post

Sincerely,
Padhang Bulan

Tags:

Written by

We are the second largest blogger templates author, providing you the most excellent and splendid themes for blogger cms. Our themes are highly professional and seo Optimized.

5 komentar :

  1. Membawa saya waktu untuk membaca semua komentar, tapi aku menikmati artikel.

    BalasHapus
  2. nice post mas thanks.,.,,

    BalasHapus
  3. kunjungan sore ikut mampir liat" blognya keren dah

    BalasHapus

“Komentar yang bagus dan benar lebih baik dari sedekah yang menyinggung perasaan.”

 
@2015 | Designed by Templatezy | Redesigned by FlyCreator