Agustus 28, 2009

Buru Donatur Teroris

Buru Donatur, Muhammad Jibril Diinterogasi secara Mobile
Polisi Siap Lepas setelah Tujuh Hari

JAKARTA - Penyidikan polisi terkait dengan pendanaan operasi teror bergulir cepat setelah Muhamad Jibril diringkus. Densus 88 Mabes Polri berharap jejak syekh asal Timur Tengah yang diduga sebagai donatur pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton bisa terlacak. Karena itu, Jibril diinterogasi secara mobile (berkeliling) kemarin (26/8).

''Penyidikan masih dikembangkan, terutama pada kronologi kedatangan seorang syekh ke Indonesia,'' kata seorang sumber Jawa Pos kemarin.

Jibril disergap petugas Densus 88 pada Selasa (25/8) saat hendak pulang ke rumah orang tuanya, Abu Jibril, di Pamulang, Tangerang.

Seharian kemarin, Jibril dibawa ke berbagai lokasi di sekitar Ja­kar­ta. ''Ke Bandara dan ke Be­­kasi,'' katanya lantas menolak menyebutkan detail tujuan.

Jibril dianggap mengetahui kedatangan donatur operasi teroris itu ke Indonesia pada Juni lalu. ''Tapi, ke­terangannya masih berbelit-belit. Berulang-ulang ditanya sering me­ngaku lupa,'' ungkap sumber itu.

Polisi juga berusaha mencari jejak-jejak dokumen berupa surat, fotokopi, tiket, atau bill kamar hotel. ''Kami menemukan beberapa yang signifikan di kantor tersangka (Arrahmah Media, tempat Jibril tinggal, Red). Tapi, belum bisa saya sampaikan,'' ujarnya.

Jika dalam jangka tujuh hari peran Jibril dalam operasi teror Marriott 17 Juli lalu tak bisa dibuktikan, polisi pasti akan melepas dia. ''Kami tak mau melanggar hukum. Tapi, kami efektifkan sisa waktu yang ada,'' tegasnya.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengamini per­nyataan itu. ''Berdasar UU Antiteroris, polisi punya hak menangkap dan memeriksa se­seorang dalam tuduhan terlibat aksi terorisme. Jika dalam 7 x 24 jam tidak terbukti, akan dilepas,'' ungkapnya kepada wartawan kemarin.

Dia juga membantah kabar bah­wa Jibril sebenarnya ditangkap lebih dulu sebelum ditetapkan sebagai DPO oleh polisi. ''Tolong cermati ya, pengumumannya itu pukul 13.00 siang, dia ditangkap pukul 15.00 sore. Jadi, kami memang mencari di alamat sebelumnya, tapi tidak ketemu. Karena itu, kami umumkan,'' tegasnya.

Penangkapan Jibril yang tanpa disertai surat penangkapan tersebut direaksi keras keluarganya. Kemarin (26/8), Abu Jibril, ayah Jibril, mengadakan jumpa pers di Masjid Al Munawwaroh, Pamulang, dekat tempat tinggalnya. Dalam pertemuan itu, sekitar 100 anggota pengajian Ar Royan yang dikelola Abu Jibril ikut hadir.

Pria yang juga punya nama Mohammad Iqbal itu menilai, penangkapan anaknya tersebut merupakan aksi kalap aparat kepolisian. Mereka menangkap pelaku tanpa bukti-bukti kuat, bahkan penangkapan itu tidak manusiawi. ''Dia itu belum terbukti sebagai penjahat, tapi ditindak layaknya penjahat. Badannya ditelungkupkan di aspal. Ka­ki polisi itu menginjak punggung anak saya,'' ujarnya.


Menurut dia, polisi mulai tidak bisa berpikir logis untuk menyelesaikan kasus teroris ini. Setiap kelompok Islam yang dianggap berbeda dari pemerintah dianggap radikal serta berbahaya.

Pemikiran tersebut, kata Abu Jibril, telah meracuni aparat kepolisian. Secara serampangan mereka menangkap tanpa prosedur, bahkan membawa ke taha­nan dengan alasan tidak jelas. ''Kemarin, saya minta bertemu anak saya, tapi dijawab tidak tahu oleh Kadivhumas Polri. Masak ada polisi menangkap, tapi tidak tahu di mana tahanannya,'' katanya penuh kesal.

Saat ditanya soal kedekatan Jibril dengan Noordin M. Top, Abu Jibril mengaku tak tahu persis. Tapi, Noordin memang merupakan dosen putranya saat belajar di Malaysia. ''Kalau itu yang jadi alasan penangkapan, sangat tidak tepat. Guru belum tentu sama dengan muridnya,'' tegasnya.

Menurut Abu, Noordin bisa saja menjadi pelaku teroris. Tapi, Jibril tidak mungkin melakukan tindakan tersebut, apalagi tuduhan menggalang dana bagi terorisme. ''Makan dan minum saja masih ditanggung orang tua. Masak mau mikirin yang lain? Dia itu masih minta jajan sama saya,'' ujarnya.

Ditambah, personel Densus 88 ikut menggeledah kediamannya di Witanaharja, Pamulang. Enam anggota Densus 88 yang menggeledah itu berhasil membawa dua laptop dan sejumlah kaset dakwah. Aksi tersebut dimulai pukul 24.00-03.00. ''Saya sempat memprotes penggeledahan itu. Sebab, petugas mencari kamar tidur anak saya,'' jelas Abu.

Dia menambahkan, penggeledahan tersebut tidak sesuai pro­sedur. Lokasi yang dituju tidak sama dengan alamat surat penggeledahan. ''Anak saya tidak lagi tinggal di sini. Dia sudah hidup sendiri,'' tegasnya.

Para anggota Densus 88 itu, kata Abu, tidak peduli terhadap penjelasan tersebut. Penggeledahan tetap dilanjutkan. Semua ruang dalam rumah digeledah paksa. Hanya kamar tidur utama yang tidak diperiksa. Barang yang dibawa Densus 88, lanjut dia, adalah barang milik tamu dan anaknya.

Kemarin petang, Abu Jibril juga kembali mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Dia mengaku membawa baju dan obat-obatan untuk anaknya. Sempat menunggu dua jam, dia pulang dengan tangan hampa. ''Kata orang Densus, dia tak bisa ditemui. Masih dibawa ke suatu tempat untuk pengembangan,'' ungkapnya.

Hari ini, Abu dan pengurus Majelis Mujahidin Indonesia akan menemui Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. ''Saya akan menanyakan soal anak saya yang ditangkap tanpa prosedur,'' tegasnya.

Pengacara Abu Jibril, Yusuf Sembiring, juga akan mengajukan gugatan praperadilan. Keluarga Abu Jibril beralasan bahwa polisi telah menyimpang dari KUHP dalam penangkapan yang tidak diikuti pemberitahuan kepada keluarga. ''Semua harus tunduk pada KUHP,'' ujarnya.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, sejumlah pihak akan mengadakan tablig akbar di berbagai kota mulai Jumat besok. Di Jogjakarta, misalnya, akan ada konsentrasi massa pada 30 Agustus nanti. Isu yang akan diusung adalah mengkritik tindakan polisi yang dinilai asal tangkap.

Di Jakarta, setelah salat Jumat, akan diadakan sebuah aksi massa. Estimasi jumlah yang mendukung sikap Abu Jibril dan keluarganya itu mencapai 3.000 orang.

Bagi sejumlah anggota JI, nama Muhamad Jibril tidak asing lagi. Pemuda itu ''gaul'' dengan orang-orang Jamaah Islamiyah (JI) sejak 1993. Bahkan, dia secara personal kenal dengan Noordin M. Top, buron yang paling dicari saat ini.

Menurut seorang sumber dari kalangan internal JI, Jibril merupakan salah seorang santri di Pondok Luqmanul Hakim, Johor, 1993. Dia ditangkap dan baru keluar penjara pada 2001 dengan tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan.

Kemudian, dia pergi ke Pakis­tan. Kendati tidak ada yang bisa memastikan apa aktivitasnya di sana, sekitar 2003, Jibril ditangkap pemerintah Pakistan dan dideportasi ke Indonesia.

''Diduga kuat, dia berhubungan erat dengan Al Qaidah dan peme­rintah Pakistan menemukan ke­terkaitannya. Karena itu, dia dideportasi,'' tutur seorang anggota senior JI yang tak mau namanya di­sebutkan tersebut. Selain itu, Jibril tak asing dengan kelompok militan.

''Dia (Jibril, Red) mempunyai kaitan erat dengan Ali. Dia terbiasa membangun lobi di kalangan ke­lompok militan luar nege­ri,'' ucap seorang sumber di kepolisian.

Sumber tersebut meyakini bahwa Jibril bukan dari kalangan ''operasional'', yakni perencana maupun ek­sekutor bom. ''Dia tak punya ke­mampuan itu. Tapi, dia mempunyai jaringan yang amat luas. Di sanalah dia berperan,'' imbuhnya.

Sumber tersebut juga meng­ungkapkan, berdasar catatan po­lisi, memang belum ditemukan keterkaitan Jibril dengan bom-bom terdahulu. Mulai bom Bali I (2002) hingga bom Bali II (2005). ''Namun, tidak berarti dia tak terkait. Kami hanya belum mene­mukan kaitannya,'' ujarnya. [JP, Kamis, 27 Agustus 2009] (rdl/ano/rko/jpnn/iro)
*** * ***

Densus 88 Sita Empat CPU, Situs Ar-Rahmah Tutup


SITUS berita Ar-Rahmah terpaksa tutup. Itu terjadi karena empat CPU (central processing unit) komputernya disita Densus 88 Selasa malam (25/8). Polisi menggeledah kantor Ar-Rahmah Media yang berada di Jalan Pisok, Blok EB X No 45 A, Sektor V, Bintaro, untuk mencari dokumen terkait pendanaan terorisme yang disangkakan kepada Muhamad Jibril.

Berdasar pantauan koran ini di kantor Ar-Rahmah, penggeledahan terjadi di semua ruang kantor. Terdapat empat kamar yang dibongkar. Dua kamar merupakan ruang kerja dan dua kamar lain tempat tinggal M. Jibril yang online dengan nama sandi Prince of Jihad itu.

Staf Marketing Ar-Rahmah Hendra Setiadi mengungkapkan bahwa penggeledahan itu terjadi saat kegiatan up-load berita berlangsung. Saat itu hanya ada tiga karyawan. Salah seorang di antara mereka adalah Pemimpin Redaksi Ar-Rahmah Media Mohammad Fachri. Karyawan yang lain sudah pulang.

''Empat CPU dibawa petugas. Isinya, semua berita yang pernah tayang di situs ini. Tidak ada yang berkaitan dengan aksi teroris,'' tegas Hendra.

Lebih lanjut Henda membeberkan, kegiatan Ar-Rahmah Media memang tak hanya menyampaikan syiar Islam. Sejumlah kegiatan yang terkait pengembangan dakwah juga dilakukan. Antara lain, penerbitan dan terjemahan buku-buku Islam. ''Sudah ada 12 judul buku yang diterbitkan,'' paparnya.

Untuk dana operasional Ar-Rahmah Media, Hendra memastikan tidak ada bantuan dari asing atau luar negeri. Semua dana berasal dari donator lokal yang nilainya sangat variatif. Mulai yang menyumbang Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Kantor tersebut merupakan rumah kontrakan. Kondisinya sangat berantakan. Semua lemari dan kamar di rumah dua lantai itu terbongkar. Barang-barang berserakan di lantai kantor. Tumpukan buku-buku Islam dan kaset-kaset dakwah yang, tampaknya, sempat diperiksa isinya tak lagi tersusun di rak buku.

Pakaian M. Jibril juga tak lagi tertata. Lemari pakaian porak-poranda. Isinya berhamburan di kamar tidur. ''Ini memang kamar yang biasa digunakan pimpinan saya,'' jelasnya.

Situs Ar-Rahmah setiap hari update dengan perkembangan terbaru jihad di dunia. Mereka bahkan meng-upload video penyembelihan seorang warga Iraq yang diduga mata-mata Amerika Serikat. Selain itu, informasi perkembangan gerilyawan As Sahab Al Mujahidin di Somalia juga dikabarkan tiap jam.

Prince of Jihad alias M. Jibril juga baru saja melakukan wawancara eksklusif dengan seorang bernama Muhammad Al Mujahid yang menjadi salah seorang komandan jihad Taliban, Pakistan, di Lembah Swat. ''Di Lembah Swat seluruh mujahidin yang syahid ada 200 dan tentara (murtadin) yang terbunuh 1.200 dengan pimpinan mereka yang terbunuh berjumlah 65, Alhamdulillah.

Jumlah seluruh mujahidin dari seluruh kelompok yang berada di Swat adalah 1.500. Jadi, jika total dari kami yang terbunuh (seperti yang dikatakan tentara murtadin) berjumlah 7.000, itu adalah bohong besar," ujar Muhammad Al Mujahid kepada M. Jibril yang dimuat dalam situs itu.

Pada Rabu, 26 Maret 2008, M. Jibril juga diketahui pernah mewawancarai Imam Samudera sebelum aktor bom Bali 1 itu tewas di tangan regu tembak. Saat itu M. Jibril datang sebagai pimpinan majalah Jihad Magz yang didirikannya dengan dana sang ayah.

Sumber Jawa Pos di Mabes Polri menyebutkan, situs Ar-Rahmah punya koneksi langsung dengan tim cyber jaringan Al Qaidah Al Islamiyah milik Usamah bin Laden. ''Kalau tidak, dari mana mereka bisa punya data selengkap itu,'' kata sumber itu.

Namun, Pemimpin Redaksi Ar-Rahmah Moh. Fachri membantah tegas. ''Saya yakin, ini hanya karena polisi gerah dengan berita-berita kami yang mengkritik mereka. Kami itu situs dakwah, bukan situs teroris,'' katanya di sela-sela mendampingi Abu Jibril di Masjid Munawaroh, Pamulang, Tangerang. (rdl/rko/jpnn)

Print this post

Sincerely,
Padhang Bulan

Agustus 22, 2009

Korma Obama

Kurma Obama Kualitas Top

Pedagang kurma di Mesir punya tradisi unik setiap Ramadan. Mereka biasa menjual kurma kualitas terbaik dengan menggunakan nama tokoh terkenal. Kali ini, nama Presiden AS Barack Hussein Obama yang ''dipinjam''. Mereka memakai nama Obama sebagai penghormatan karena presiden negeri adidaya itu merangkul komunitas dan dunia muslim. Harga kurma Obama cukup mahal, yakni 25 pound Mesir atau USD 4,5 (sekitar Rp 45 ribu) per kg. Tampak tulisan ''Obama, 25 pound'' terpasang di sebuah stan penjual kurma di Kairo, Mesir, kemarin (23/8). Itu juga bukti bahwa umat Islam sangat menghargai orang lain yang berbeda agama. Kelak, mungkin, ada lagi kurma Mandela atau kurma Hu Jintao. (AP)




Print this post

Sincerely,
Padhang Bulan

Agustus 15, 2009

Ponpes Al Mukmin Ngruki

Ponpes Al Mukmin, Ngruki, yang Selalu Disorot "Gudang"
Wali Murid Terganggu, Manajemen "Talak" Wartawan

Nama Ponpes Al Mukmin, Ngruki, ''mengemuka'' setiap ada peristiwa pengeboman atau pengungkapan terorisme. Pengaitan itu tentu saja menyebabkan segenap penghuni ponpes terganggu.

KARDONO S., Solo
---

SEJAK 17 Juli lalu, Direktur Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jateng, Ustad Wahyudi telah menjatuhkan ''talak" kepada wartawan atau pers. Sebab, beberapa saat setelah pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan (17/7), kata dia, sejumlah media massa secara tak langsung justru memojokkan pihaknya.

''Anggapan-anggapan di luar lebih banyak mengganggu. Setiap pernyataan kami malah tak membuat kondusif suasana. Jadi, bukan bermaksud memusuhi media. Kami hanya tak mau ngomong terkait tudingan antara terorisme dan Ponpes Al Mukmin,'' kata Wahyudi ketika ditemui di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, kemarin siang.

Menurut dia, setiap ada insiden peledakan bom atau terorisme sejumlah tudingan pun muncul. Di antaranya, menyebutkan bahwa yang diajarkan di Al-Mukmin hanyalah kitab-kitab Arab. Tak sedikit pula yang menyatakan bahwa ponpes tersebut sebagai gudang teroris. ''Padahal, di sini (Ponpes Al Mukmin, Red) bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris dan Arab,'' tegasnya.

Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Al Mukmin kini mempunyai 1.600-an santri. Berdiri di lahan sepuluh hektare, pondok pesantren tersebut mempunyai tiga kompleks pondok. Yaitu, untuk putra, putri, dan untuk pengajaran.

Lembaga pendidikan Islam itu mempunyai tiga lembaga pendidikan, yakni madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), madrasah aliyah, dan mualimin (dua ini setingkat SMA). ''Tahun ini santri kami yang lulus dari ujian persamaan sudah seratus persen,'' kata Wahyudi bangga.

Namun, setelah tudingan-tudingan tersebut dan sejumlah lulusannya terlibat dalam kasus terorisme, hal itu kemudian mengganggu internal pondok tersebut.

''Saya menerima banyak komplain dari para wali murid. Saya memahami komplain tersebut karena khawatir anaknya menjadi macam-macam. Padahal, kami juga tak sepaham dengan terorisme,'' tandasnya.

Selain itu, Wahyudin mengatakan bahwa yang diajarkan pihaknya tak berbeda dengan pondok-pondok pesantren lainnya. Yakni, materi pengetahuan umum dengan titik tekan pada ilmu agama. ''Itu hal wajar karena kami memang lembaga pendidikan Islam,'' tandasnya.

Seperti laiknya ponpes yang lain, Al Mukmin juga menarik SPP dari santri Rp 500 ribu sebulan. ''Tapi, tetap ada sekitar 10 persen di antara total murid kami yang mendapat subsidi, bahkan gratis,'' tandasnya.

Anak-anak yang nyantri pun berasal dari beberapa daerah di Indonesia. ''Kami juga punya santri dari Papua,'' imbuhnya. Sekarang ini mayoritas berasal dari Jakarta.

Kegiatan sehari-hari para santri juga tak banyak berbeda dengan santri ponpes yang lain. Mereka bersekolah pukul 07.00 hingga pukul 14.00. Kemudian, istirahat dan salat Asar. Sesudah Asar, sejumlah kegiatan ekstrakurikuler pun tersaji. Selesai salat Magrib hingga Isya, para santri mendapat pelajaran lagi. ''Bersifat preview dari materi yang telah diajarkan,'' tambahnya.

Pukul 22.00, para santri tidur. Mereka harus bangun sekitar pukul 03.00. Para santri lalu salat malam, berlanjut Subuh, dan kemudian bersekolah lagi. Berdasar pantauan Jawa Pos, kegiatan ekstrakurikuler juga cukup hidup.

Kemarin, saat Jawa Pos datang, sejumlah murid madrasah aliyah tengah membuat sebuah panggung pentas dan menggrafitinya. Bentuk panggung sangat ''nyeni". Seorang santri yang tak mau menyebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan tudingan teroris.

''Biar orang lain menilai apa, yang jelas saya tak ada masalah,'' tambahnya. Santri itu mengakui bahwa ada di antara sejumlah teman yang beraliran ''keras''. Tapi, itu lebih merupakan pilihan sendiri. ''Yang jelas, di sini saya hanya menuntut ilmu,'' tambahnya.

Sejarah lembaga itu tergolong panjang. Berawal dari pengajian selepas Duhur di Masjid Agung, Surakarta. Kemudian, para dai dan mubalig yang ada di sana mengembangkan pengajian tersebut dengan mendirikan sebuah madrasah diniyah di Jalan Gading Kidul 72 A Solo.

Madrasah itu semakin berkembang ketika lembaga tersebut didukung Radis (Radio Dakwah Islam Surakarta). Hingga 10 Maret 1972, berdirilah Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki.

Pada awal berdiri, tercatat hanya 30 murid. Pendirinya, antara lain, Ustad Abu Bakar Ba'asyir dan almarhum Ustad Abdullah Sungkar. Dua orang itulah yang kemudian dituding polisi menjadi amir sekaligus pendiri Jamaah Islamiyah (JI), sebuah organisasi yang dihubungkan dengan Al Qaidah.

Menurut penuturan sejumlah anggota senior JI, JI terbentuk tak lepas dari peran Ustad Abdullah Sungkar. Pada 1993, Ustad Abdullah Sungkar berbeda pendapat dengan Ustad Masduki soal NII (Negara Islam Indonesia).

Ustad Masduki tetap menghendaki NII sebagai wadah perjuangan, sedangkan Ustad Abdullah Sungkar ingin berbentuk organisasi internasional. Abdullah Sungkar berpendapat bahwa NII merupakan romantisme masa lalu yang telah gagal.

Kemudian, sejumlah lulusan kamp Mujahidin, Afghanistan, diminta untuk memilih, ikut Ustad Abdullah Sungkar atau Ustad Masduki. Sejumlah nama seperti Ali Ghufron, Imam Hambali, dan Nasir Abbas memilih bergabung dengan Ustad Abdullah Sungkar.

JI kemudian berdiri. Nasir Abbas mengatakan bahwa Ustad Abu Bakar Ba'asyir pernah menjadi amir JI. Selain itu, sejumlah pihak mengatakan bahwa Noordin M. Top pernah dilatih khusus oleh Ustadz Ba'asyir.

Tudingan itu dibantah keras oleh Ustadz Ba'asyir. ''Bila ada polisi yang ngomong seperti itu, berarti itu polisi bodoh. Tulis itu, polisi yang menuduh saya adalah polisi bodoh,'' tandas ustad yang kini menjadi penasihat Ponpes Al Mukmin itu.

Ustadz Ba'asyir kemudian mengakui bahwa dirinya pernah tinggal di Malaysia. ''Tapi, sehari-hari saya berada di Negeri Sembilan. Sementara Noordin ada di Johor. Jaraknya 400 kilometer,'' tandasnya. Ustadz Ba'asyir mengatakan bahwa dirinya memang pernah ke Johor, tapi itu sekadar memberikan pengajian satu malam saja. ''Besoknya pulang lagi,'' tambahnya.

Dia menceritakan bahwa pengajian yang diberikannya terbatas kepada keluarga besar Ponpes Luqmanul Hakim, Johor. ''Ada banyak orang, termasuk Noordin. Tapi, saat itu belum ada 'top'-nya,'' ucapnya, yang kemudian disambut derai tawa hadirin di tempat tersebut.

Ustadz Ba'asyir kemudian mengatakan bahwa dirinya tak kenal Noordin secara khusus. ''Berbincang berdua saja saya tak pernah,'' tegasnya.

Selain itu, Ustadz Ba'asyir bersikukuh bahwa Air Setyawan dan Eko Pe'yang yang tewas saat penggerebekan Densus 88 di Jatiasih adalah seorang mujahid. ''Keduanya bukan teroris, tapi mujahid,'' tandasnya.

Bagaimana soal pengeboman? Ustadz Ba'asyir mengatakan bahwa keduanya mungkin keliru melakukan langkah-langkah perjuangan. ''Saya sendiri berpendapat, pengeboman hanya boleh di daerah perang. Tapi, semua itu kan tetap ijtihad. Keduanya bukan nabi. Jadi, bisa jadi mereka keliru. Tapi, itu tetap tak mengubah fakta, keduanya mujahid,'' tandasnya. [Jawapos, Sabtu, 15 Agustus 2009]-(Diperkaya Harun Radar Solo/iro)

Print this post

Sincerely,
Padhang Bulan

Agustus 13, 2009

Jenderal Serangan Peledakan JWM-RC

Ibrohim Jenderal Serangan Peledakan JW Marriott dan Ritz-Carlton


Hanya Satu Luka Tembak di Punggung

JAKARTA - Pekerjaan sehari-harinya memang penata bunga (florist). Tapi, dalam peledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, 17 Juli lalu, Ibrohim adalah jenderal serangan. Dialah yang ditembak mati Densus 88 Antiteror di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung, Sabtu lalu (8/8).

Kejelasan bahwa jenazah yang sebelumnya diduga Noordin M. Top itu disampaikan Kapusdokkes Brigjen Pol Edy Saparwoko di Rumah Sakit Kepolisian Pusat Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, kemarin (12/8). ''Hasil itu didapat setelah pengecekan DNA,'' katanya.

Saat pengecekan DNA itu, tim DVI (Disaster Victim Identification) masih menduga bahwa mayat tersebut adalah Noordin M. Top. Tim lantas membandingkannya dengan sampel DNA dari keluarga dan anak-anak Noordin di Johor Bahru, Cilacap, dan Klaten. ''Semua tidak cocok,'' kata Edy.

DVI kemudian mencocokkan dengan sampel DNA keluarga Ibrohim di Cilimus, Kuningan, Cirebon. Yakni, istri dan dua anak Ibrohim. ''Seratus persen cocok. Yang meninggal (di Temanggung) adalah Aam alias Ibrohim alias Boim,'' katanya.

Metode serupa digunakan untuk mengidentifikasi tiga jenazah lainnya. Yakni, Air Setyawan, Eko Joko Sarjono, dan Dani Dwi Permana. Eko dan Air juga dilakukan pemeriksaan sidik jari. Dua metode itu memberikan hasil yang sama. Khusus untuk Dani, Polri hanya memeriksa DNA. Sebab, kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya tercerai-berai.

Untuk Nana Ichwan Maulana, eksekutor bom bunuh diri di Ritz-Carlton, belum ada pemeriksaan mendetail. Sebab, hingga kini keluarga Nana belum ditemukan. ''Alamatnya saja tidak jelas. Kami hanya tahu di Pandeglang, Banten. Itu saja,'' kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombespol I Ketut Untung Yoga Ana.

Empat jenazah tersebut diambil keluarga masing-masing kemarin siang. Jenazah Eko dan Air dibawa dengan dua mobil jenazah ke Kaliyoso, Sragen. Jenazah Dani diambil ibu kandungnya, Sutini, dan jenazah Ibrohim diambil keluarganya.

Yoga Ana mengatakan, Suci Hani, istri Ibrohim, bersama kakaknya tiba di RS Polri untuk melihat jenazah. Namun, di RS kemarin tidak terlihat Suci Hani. Hingga jenazah dibawa keluar dari RS pun, Suci tidak tampak.

Pemberitahuan untuk mengambil jenazah memang sangat mendadak. Kuasa hukum keluarga Air dan Eko, M. Kurniawan, mengatakan baru diberi tahu kemarin pagi. ''Kami langsung meluncur ke Jakarta pukul 08.30 naik pesawat,'' katanya. Begitu pula Suci Hani. Dia baru diberi tahu pada Selasa malam.

Kondisi jenazah juga berbeda-beda. Berdasar keterangan keluarga yang melihat mayat, terdapat luka tembak di kepala dan hidung Air. Sedangkan pada jenazah Eko, luka tembaknya dari belakang kepala tembus ke muka.

Yang cukup mengagetkan, di jenazah Ibrohim ternyata hanya terdapat satu luka tembak. Itu pun dari hasil ricochet (peluru mental) dari tembok dan menembus punggungnya. Padahal, saat penggerebekan, Ibrohim dihujani peluru. Dia juga sempat dilempari bom low explosive.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Nanan Soekarna mengatakan, hingga kemarin polisi sudah punya delapan tersangka. Lima sudah jadi mayat, plus Aris Sutanto dan Indra Arif yang ditahan dari penggerebekan di Temanggung. Dua tersangka itu dibawa ke Jakarta pada Senin (10/8). Satu lagi Amir Abdillah alias Ahmad Ferry, penyewa safe house Jatiasih, Bekasi.

Mantan Kapolda Sumut itu menjelaskan, Ibrohim adalah perencana, pengatur, dan pengontrol serangan. Dalam rapat merancang serangan, Ibrohim yang mengusulkan JW Lounge di JW Marriott dan Ritz-Carlton sebagai sasaran. Alasannya, JW Lounge menjadi tempat pertemuan rutin orang asing.

Sedangkan Ritz-Carlton menjadi sasaran karena Ibrohim punya akses dan termasuk simbol Barat. ''Ini berdasarkan keterangan Amir Abdilllah dan tersangka yang ditangani Mabes Polri,'' kata Nanan.

Ibrohim melakukan survei pada 8 Juli. Dia mengajak Dani Dwi Permana yang ketika itu masih berstatus ''calon pengantin''. Dalam rekaman CCTV yang kemarin ditampilkan, Ibrohim masuk lewat pintu karyawan Marriott bersama Dani. Survei itu dilakukan pada sasaran bom, JW Lounge.

Pada 16 Juli, sehari sebelum eksekusi, Ibrohim membawa bom dengan mobil boks lewat loading dock melalui pintu belakang. Mobil rental yang dibawa dari Solo itu memuat bom dalam tiga kardus bunga.

Saat hendak menurunkan kardus itu, sopir mobil hendak membantunya. Namun, Ibrohim melarang dan menurunkannya sendiri. Dia lantas membawanya ke kamar 1808. Di kamar itu sudah ada Dani yang check in sejak 15 Juli.

Di Hotel Ritz-Carlton Ibrohim memasukkan bom dan pelaku bom bunuh diri Nanan Ikhwan Maulana melalui pintu masuk karyawan pada 17 Juli, hari peledakan, pukul 06.15.

Dengan informasi itu, kata Nanan, sejumlah dugaan pun pupus. Sebelumnya, beredar informasi bahwa bom dimasukkan dalam troli saat Dani check in. Dia diduga lolos dari pemeriksaan metal detector petugas keamanan hotel. ''Dia bisa masuk karena koper itu kosong,'' katanya. Ternyata, bom masuk melalui loading dock.

Sebagai perencana, lanjut Nanan, pria 37 tahun itu mengikuti rapat dengan Noordin M. Top, Amir Abdillah, Dani, dan Nana. Mereka menggelar rapat di rumah kos di Kuningan, safe house di Mampang dan Jatiasih. ''Jadi, Ibrohim adalah otak serangan di JW Marriott dan Ritz-Carlton,'' kata Nanan.

Setelah berhasil meledakkan dua tempat itu, Ibrohim disiapkan menjadi ''pengantin'' pengeboman di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Bogor. Dia lantas bergabung dengan Amir Abdillah dan Noordin M. Top masuk ke safe house di Perumahan Nusaphala, Jatiasih, Bekasi.

Di tempat itulah disiapkan serangan untuk SBY. ''Saat itu ada pernyataan dari Ibrohim, kami mohon diri untuk siap menjadi pengantin,'' katanya. Bom rompi dan bom mobil pun segera disiapkan.

Ibrohim lantas diamankan di Temangggung sambil menunggu bom di Jatiasih. Namun, pada 7 Agustus, Ibrohim dikepung di rumah persembunyiannya di Temanggung dan tewas tertembak.

Nanan mengatakan, Ibrohim masuk Jamaah Islamiyah (JI) pada 2000. Dia diajak Amir Abdillah yang juga adik iparnya, dari sel Jakarta-Bogor. Itu berarti, Ibrohim direkrut menjadi anggota ketika masih bekerja sebagai florist di Hotel Mulia. Itu pula yang menjelaskan mengapa Ibrohim kemudian pindah ke Chynthia Florist pada 2005 meski digaji lebih rendah. Sebab, Cynthia Florist punya akses di kedua hotel itu.

Warga Tolak Pemakaman


Begitu Mabes Polri merilis bahwa pria yang tewas diberondong peluru oleh tim Densus 88 di Temanggung akhir pekan lalu adalah Ibro­him, sontak warga Sampora, Kecamatan Cilimus, menolak jasadnya dimakamkan di desa tersebut. Alasannya, Ibrohim bukan warga asli setempat dan perbuatannya telah mencoreng nama desa itu.

Penolakan pemakaman jenazah Ibrohim di Sampora tersebut di­ung­kapkan dalam surat per­nyataan yang ditandatangani 22 warga. Keluarga Ibrohim kemudian memilih TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, untuk memakamkan jenazah florist Hotel Ritz-Carlton tersebut.

''Warga menolak Ibrohim dimakamkan di sini karena per­buatannya telah mencoreng citra. Karena itu, kami langsung menyampaikan surat penolakan ter­sebut kepada pihak terkait lainnya,'' jelas Kades Sampora Nur Ro­hidin.

Gerebek Gudang Bom



Setelah memastikan Danni Dwi Permana, bomber Hotel JW Marriott, dan perekrutnya, Saefuddin Jaelani, dari wilayah Bogor, kemarin malam polisi berhasil menggerebek sebuah gudang bom berdaya ledak tinggi di kawasan berhawa dingin tersebut.

Gudang yang diduga disewa teroris di Kampung Bojong, RT 04/06, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, itu be­risi penuh bahan peledak yang mirip dengan bom yang ditemukan di wilayah Jatiasih, Bekasi, Sabtu dini hari lalu (8/8).

Petugas Detasemen A Satuan II Pelopor Brimob Kedung Halang me­nemukan sejumlah bahan pembuat bom seperti sulfur belerang, H202 hidrogen peroksida, soda api, natrium sulfat, cairan asam, dan paralon dengan tiga kilogram bahan bom.

Menurut Kepala Satuan II Pelopor Brimob Kedung Halang Kombespol Saeful Bachri, semua itu adalah bahan untuk membuat bom rakitan. Bila sudah jadi, bom tersebut memiliki daya ledak sangat besar. ''Ini jelas sangat mirip dengan bom yang ditemukan di daerah Jatiasih beberapa waktu lalu," kata Saeful.

Petugas, lanjutnya, akan membawa barang bukti berupa bahan-bahan bom peledak ditambah satu pompa serta dua karung belerang. ''Sementara, temuan ini akan ditindaklanjuti pasukan Densus 88 Antiteror Mabes Polri," jelasnya.

Bahan-bahan bom yang memiliki daya ledak tersebut ditemukan pemilik gudang, Harlan, 45. David, 35, warga sekitar, mengatakan, Har­lan menyewakan gudang tersebut kepada Sugi, 41, karena rencananya dijadikan sebuah toko material.

Namun, tanpa sepengetahuan Harlan, Sugi menyewakan gudang itu kepada empat mahasiswa. ''Yah, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan berumur 20 tahunan menyewa tempat tersebut dari Sugi," tutur David.

David menjelaskan, empat mahasiswa itu datang sekitar Mei 2009. Mereka tidak menetap, hanya seminggu sekali datang ke gudang tersebut. Namun, sejak Juni lalu, mereka tidak pernah terlihat lagi. ''Kalau mereka datang, biasanya dua orang yang masuk ke dalam dan dua orang lagi berjaga-jaga di luar. Pernah juga Harlan ingin masuk, namun mereka larang dengan berbagai alasan," terangnya. [Jawa Pos, Kamis, 13 Agustus 2009](aga/ags/roy/jpnn/cfu/iro)
*** * ***

Larangan Peliputan


Setelah ada kepastian bahwa dua orang yang tewas dalam penyergapan di kawasan Jatiasih, Bekasi, adalah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, pihak keluarga di Brengosan, Purwosari, Laweyan, mulai melakukan berbagai persiapan upacara pemakaman.Di depan rumah mereka, terbentang spanduk digital printing warna hitam untuk menyambut kedua jenazah. ''Selamat Datang Asy-Syahid: Air Setiawan, Eko Joko Sarjono. Jihad Still Continue" dan sebuah papan kayu yang bertuliskan pelarangan peliputan untuk sebuah stasiun televisi. (in/jpnn/iro)
Print this post

Sincerely,
Padhang Bulan